Awal Ramadhan lalu, saya jalan ke Bajawa..ibukota Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur ini terlihat seperti bak karena di kelilingi gunung-gunung..Tim kali ini terdiri dari 8 orang, pak Koko, mas Tri, mas Arif, Riky, Dicky, Sesa, Intan dan saya..Lama pencapaian Malang-Bajawa sekitar 14-15 jam, sembari transit sih. Malang-Surabaya (Juanda)-Bali (Ngurah Rai)-Waingapu (Mau Hau)-Maumere (Waioti)..dari Maumere ke Bajawa naik taxi sekitar 8 jam, jalannya seperti Ngantang-Batu 10 kali bolak-balik lah hehe..ato persis jalan menuju ke Pacitan, tapi kurang lama..hebatnya saya yang pemabuk ini tidak mengalami muntah loh, sopir yg bernama om Yance Parera emang top..
Selain ikut dalam pelatihan tata ruang yang pesertanya antusias tsb, yang menyenangkan adalah jalan ke desa adat Wogo, ke wisata air panas Mengeruda di Kecamatan Soa, ke Danau Kelimutu. Hmm..ada lagi yang menyenangkan, ternyata ada seorang pemateri dari VSO (Voluntary Service Overseas) bernama Tjeerd Wits berkebangsaan Belanda, seorang ahli GIS dari UVA (university of Amsterdam)..hebat dedikasinya, salut..
Bajawa sendiri kotanya kecil, mungkin setengah jam aja selesai keliling kota. Bagi saya, Bajawa mempunyai keunikan antara lain stadionnya. Baru kali ini ada stadion yang arahnya Timur-Barat hehe..coba dicek di kota lain, selalu menghadap Utara-Selatan karena mengikuti arah peredaran matahari, supaya tidak menyilaukan bagi pemain sepak bola. Di Bajawa jadi lain, sinar matahari bukan menjadi penghalang bagi pemain sepakbola, karena hawa yang dingin sekali orang bermain bola mulai jam 11-12 siang hehe..
Selain itu hampir tiap sudut kota ada tugu atau patung seperti landmark, tapi bukan landmark hanya patung kata seorang bapak pejabat Bappeda Ngada. Saya jadi ingat kata Dr. van Stein “don’t ask me about the meaning of sculpture in Groningen, just art”..loh ternyata sama aja toh di Groningen ama Bajawa hehe..
Ada lagi yang unik menurut saya, cabe rawitnya kecil-kecil dan pedes banget. Sengaja saya beli untuk dibawa pulang, sebagian saya tanam tuh hehe..Kain adat untuk Bajawa berwarna dasar hitam, lebih minimalis coraknya. Saya sempat beli di desa Langa, beruntung Sesa mabuk (baca: akibat si label merah hehe..) jadi dapat sarung dengan harga murah. Oiya, jangan lupa coba nikmati kopi arabika Bajawa, sedap banget..

Recent Comments